Pringsewu

Diduga Dana KIP Tidak Tepat Sasaran, Kepala Sekolah Kondisikan Wali Murid

PRINGSEWU LAMPUNG, SUMSELNEWS.COM-Pemerintah harus lebih ketat dalam melakukan pengawasan program yang diluncurkan pemerintah dalam upaya meningkatkan dan penanggulangan anak anak putus sekolah dikarenakan mahalnya dan mungkin juga tidak ada biaya sekolah, salah satu program yang diluncurkan pemerintah yakni program bantuan siswa miskin KIP (kartu Indonesia pintar) yang bertujuan meningkatkan kwalitas Dan mutu dalam dunia pendidikan.
Beda halnya dengan yang terjadi di MI Miftahul Ulum Waringin sari kecamatan Sukoharjo yang mana siswa penerima BSM KIP berjumlah 10 orang siswa, dan persiswa hanya mendapatkan Rp 150.000 tidak sesuai dengan seharusnya yang diterima yakni Rp 450.000 untuk satu orang siswa dikarenakan siswa yang mendapatkan bantuan KIP tersebut harus berbagi dengan rekan rekannya yang tidak mendapatkan bantuan tapi sudah diajukan atas instruksi dari kepala madrasah Drs Etiek Jukhaeni, sehingga hal tersebut menimbulkan kasak kusuk dikalangan wali murid Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang perwakilan wali murid yang identitasnya enggan dipublikasikan kamis 8/02/18
“Kami sangat bersyukur karena dengan adanya bantuan KIP kami merasa terbantu, bantuan KIP untuk anak anak kami sebesar Rp 450.000 untuk satu seorang siswa tetapi yang anak kami terima hanya Rp 150.000 persiswa dengan alasan dibagi dengan siswa yang lain yang tidak mendapatkan bantuan KIP tersebut. Menurut kepala madrasah Drs Etiek Jukhaeni dana bantuan KIP yang seharusnya untuk 10 siswa tetapi harus dibagi dengan 30 siswa sehingga seorang siswa hanya mendapatkan Rp 150.000. kami bukan tidak mau bantu tapi keadaan kami juga kan tidak ada bagaimana kami bantu dan itukan mutlak hak anak kami kenapa harus dibagi dengan siswa yang lainnya,” ungkapnya penuh dengan kekecewaan.
Disaat konfirmasi kepihak sekolah jum’at 09/02/18 namun kepala madrasah Drs Etik Jukhaeni tidak berada ditempat, hanya dewan guru yang dapat ditemui salah satunya Purwanti guru yang mengurus dan mendampingi siswa dalam mencairkan dana bantuan tersebut. Dari Purwanti berhasil dihimpun keterangan yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan wali murid.
“Yang mendampingi anak anak ngambil dana bantuan kemaren saya mas, kami mengajukan 30 siswa untuk program KIP tapi yang dapat hanya 10 siswa dan disitu pun siswa lansung yang menerima tanpa potongan sedikit pun. Dana KIP untuk satu orang siswa sebesar Rp 450.000 tapi yang diterima 400.000 dikarenakan ada potongan pembuatan rekening sebesar Rp 50.000 yang pada waktu pembuatan rekening menggunakan dana kas sekolah dan di rekening siswa masih ada sisa Rp 50.000 jadikan sama saja diterima siswa 400.000 sisa direkening 50.000 kan pas mas jumlahnya 450.000,” ¬†paparnya purwanti.
Masih dikatakan Purwanti, untuk lebih jelasnya komunikasi langsung saja dengan kepala sekolah mas karena beliau yang lebih tahu detailnya, terkait kabar pihak sekolah memberi instruksi kepada siswa agar membagikan dengan sama rata kepada siswa yang tidak mendapatkan itu tidak benar mas, adapun ada itu berdasarkan kebijakan dari para wali murid sendiri. Tutupnya.
Berbeda dengan apa yang disampaikan kepala sekolah MI Miftahul Ulum Dra Etiek Jukhaeni saat dihubungi via gadget WhatsApp.
“kami mengajukan 56 siswa tapi yang dapet hanya 10 dan itu sudah kita bagikan kepada 10 siswa yang mendapatkan yang dan sekarang tinggal pelaporannya lagi, dan apa yang sudah disampaikan Ibu Purwanti sama saja dan itulah adanya” jawabnya dengan singkat.
Diduga kepala sekolah tidak mau bermasalah terkait pengelolaan dana bantuan KIP yang tidak sesuai, pada hari yang sama Etiek Jukhaeni lansung mengundang ke 10 wali murid yang mendapatkan bantuan dan lansung membagikan kekurangan dari yang seharusnya diterima.
Seperti dikatakan perwakilan wali murid yang menghubungi awak media via gadget WhatsApp jum’at malam 09/01/18 tepatnya pukul 19.00.
“Sore tadi sekitaran jam 16.45 saya didatangi guru MI Miftahul Ulum yang merupakan utusan dari kepala sekolah yang meminta kami untuk datang kerumah kepala sekolah sore itu juga, dan sayapun langsung berangkat dan sesampainya disana saya temui ke 10 wali murid sudah ada disana dan kepala sekolah Dra Etiek Jukhaeni menambahkan kekurangan dana bantuan KIP sebesar Rp 235.000, seharusnya Rp 300.000 tapi dipotong Rp 50.000 untuk pembuatan rekening dan Rp 15.000 untuk transfortasi dan masalah dana yang sudah kami bagikan ke siswa yang tidak mendapatkan nanti biarlah menjadi urusan sekolahan”. jelasnya.
Terkait permasalahan tersebut, nampak perbedaan antara penjelasan Purwanti dengan fakta yang disampaikan kepala sekolah, yang menurut Purwanti rekening sudah dibuat menggunakan dana sekolah tapi murid tidak memegang buku rekening tersebut sementara menurut kepala sekolah rekening baru akan dibuat. (Ifal/Abdullah)

Iklan